Minggu, 14 Juni 2009
Should I? or should I not?
Tapi aku diberi kuasa untuk memilih. Aku diberi logika untuk mengkaji. Dan ada konsekuensi yang musti dipertanggungjawabkan untuk setiap keputusan yang kubuat. Itulah kenapa ku meragu.
Tetapi bukankah selama ini keputusan tersebut sudah kubuat. Dan selama itu pula tidak ada masalah dengannya. Aku menjalaninya dengan keyakinan penuh dan rasa percaya diri yang tinggi di atas nama menjunjung sebuah prinsip. Prinsip yang saat ini justru aku pertanyakan kembali. Kenapa? After all this time?
Seandainya hidup semudah bernafas. Seandainya setiap doa selalu terkabulkan. Seandainya cobaan tidak pernah menghampiri. Mungkin hal ini tidak akan pernah muncul sebagai sebuah keraguan.
Tetapi hidup tidak berjalan dengan cara berandai-andai. Dan Tuhan pun menunjukkan rencanaNya dengan cara yang kadang-kadang kita tidak mengerti.
Aku mencoba mendiskusikannya dengan Bapakku sebagai orang yang aku anggap bijak. Beliau adalah orang yang berada pada daftar prioritas orang-orang yang ingin kubahagiakan. Dukanya adalah tangisanku. Dan tangisannya adalah dosa terbesarku.
Beliau memberikan nasehat satu atau dua. Tidak perlu banyak memang. Beliau sangat paham kenapa aku mendiskusikan hal ini dengannya. Tetapi keputusan tetap kembali kepadaku.
Dan disinilah aku. Kembali meragu.
Seandainya dampak dari konsekuensi ini hanya ditanggung oleh diriku, dan hanya diriku saja, mungkin ragu itu masih berada entah dimana. Tapi tidak disini.
Atau ini merupakan bagian dari arus perubahan yang akan kujalani? Meninggalkan zona nyamanku?
Entahlah. Yang aku tahu aku harus berbuat sesuatu untuk keluarga besarku. Sesuatu telah terjadi dan aku sadari aku telah terlambat untuk ini. Tetapi bukankah tidak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi nanti? Yang jelas, aku tidak bisa berdiam diri.
Aku teringat ucapan mahsyur dari Master Yoda :
“Do it, do it not! There’s no try!"
May the FORCE be with me
Selasa, 02 Juni 2009
Terima Kasih Tuhan
Yang pertama adalah saat ini merupakan hari pertama cuti yang aku jalani. Aku sedang mengambil cuti sampai 10 hari ke depan. Menyenangkan. Dan setiap kali bicara soal cuti, itu berarti aku sedang membicarakan Padang dan segala hal yang berhubungan dengannya.Teta, Papa, brothers n sisters, my cute nephews, teman-teman Padang, Rumah Khatib, Padang Pasir (rumah Al), Paguah Pariaman and Bukit Tinggi (I love the city), berbagai makanan yang tak pernah bosan-bosannya kusantap, udara pagi yang segar, sunset atau hanya sekadar menikmati suasana malam di Permindo. Semuanya bagai traffic generator dalam meramaikan kerinduanku.
Aku berangkat besok jam 4 sore. Untung aku sudah memesan tiket jauh-jauh hari sehingga mendapatkan harga yang lebih murah. Cherryl dan Maminya tentunya juga ikut. Cherryl malah terlihat sudah tidak sabaran untuk segera sampai di Padang. Dari kemarin dia selalu mempertanyakan kapan berangkatnya. Dan pertanyaan itu selalu dilontarkan berulang-ulang, sehingga cukup membuat aku senewen. Terakhir aku menjawab kalau kami akan berangkat 2 jam lebih cepat dari jawaban terakhir yang aku berikan kepada Cherryl. Dia bingung. Tapi syukurlah, setelah itu tidak ada pertanyaan itu lagi.
Tadi Cherryl membantu (mengganggu?) Mami yang sedang packing. Padahal seharusnya dia lebih fokus kepada pelajarannya karena saat ini dia sedang menghadapi ujian di sekolahnya. Besok tinggal hari terakhir ujiannya (ujian Sempoa). Moga-moga anakku bisa melewati ujian ini dan mendapatkan nilai yang bagus. Walaupun Cherryl tipe anak yang tidak bisa diam, nakal dan jahil seperti emaknya, tetapi dia juga tipe anak yang pintar, cakep dan penyayang seperti Bapaknya. (hihihi…untung aku belum kasih alamat blog-ku sama maminya).
Kami pulang dalam rangka menghadiri acara perkawinan adikku Silvia (tante T’mon). Acaranya sendiri akan dilaksanakan tanggal 7 Juni nanti. Dan berhubung ini acara perkawinan, pastilah sanak saudara yang jauh-jauh akan berkumpul di rumah Khatib. It’s even better. Jadi bisa ketemuan sama saudara-saudara yang sudah lama tidak ketemu. Cherryl dan maminya bisa lebih mengetahui hubungan kekerabatan dari pihakku. Terima kasih Tuhan karena telah memberikan kami kesehatan dan kesempatan untuk bisa saling bersilaturahmi dengan orang-orang yang kami sayangi.
Padang, just prepare for three amazing crazy guys…
Kedua, beberapa waktu yang lalu istriku mencoba cek urine untuk mengetes kehamilan. Sudah beberapa hari dia telat dari jadwal seharusnya. Dia mengabarkannya padaku sekitar 2 minggu yang lalu. Saat itu aku nyaris memberikan SP kepadanya (mengingat aku selalu memberikan SP kepada karyawanku yang suka telat…heheheh).
Dulu, dua bulan setelah kelahiran Cherryl, istriku ikut KB dengan cara memasang spiral. Ini memang hal yang kami rencanakan karena tentunya setiap orang tua menginginkan hal yang terbaik buat anak-anaknya. Kami ingin memastikan segala sesuatunya berjalan baik buat Cherryl sebelum memberinya adik. Kami melakukan sedikit investasi, ikut beberapa asuransi dan juga buka usaha yang tentunya dapat menunjang financial kami. We’ve been doing it in purpose. And the objective is a better future for my family. Semoga Tuhan memberikan jalan yang senantiasa lancar buat kami. Amin.
Setelah keluarga Padang dan keluarga Jakarta mendesak kami untuk memberikan Cherryl seorang adik, dan kemudian setelah melalui sedikit diskusi kecil dengan istri dan mempertimbangkan segala hal, maka pada akhir Januari 2009, kami memutuskan untuk mencopot alat KB setelah 4 tahun lebih terpasang pada tubuh istriku. Kami menemui dokter langganan kami dan menjelaskan maksud kami. Dia sangat senang dan menyatakan kebanggaannya kepada kami karena bisa berkomitmen dan merencanakan sesuatu dengan baik. Bahkan dia menyalami kami dan mengucapkan selamat walaupun istriku belum hamil. Aku cukup senang dengan pujian itu. Dan setelah menyalami kami, dia menyodorkan bon tagihan. Dasar dokter…
Dan dua minggu lalu istriku mengetes dengan menggunakan alat tes kehamilan. Dan hasilnya adalah ….. POSITIVE!!. Istriku mengabarkannya padaku via telepon saat aku sedang kerja. Aku memanjatkan syukur. Pada tanggal 26 Mei kami memastikannya di RS Yadika dan aku pertama kali melihat pencitraan janin bayiku melalui printout USG yang masih berupa titik kecil yang mempunyai panjang 1,6 cm. Usianya diperkirakan sekitar 1 bulan. Aku sudah pernah merasakanperasaan ini pada saat melihat pencitraan Cherryl lewat USG ketika masih dalam perut maminya. Tetapi sekarang pun masih terasa menakjubkan. Amazing….AMAZING!!!
Terima kasih Tuhan . Aku akan menjaga amanatMU. Dan aku memohon Engkau untuk menjaga keluargaku. Amin.
Minggu, 17 Mei 2009
Hal yang Lebih Penting dari Sebuah Kesuksesan
Sebenarnya aku tidak punya tujuan khusus ke mall ini. Waktu itu aku bersama seorang teman dan kebetulan mau mencari tempat untuk makan siang. Berhubung near by, kami akhirnya mampir ke mall tersebut.
Kesan pertama yang aku dapatkan ketika memasuki mall tersebut adalah suasana yang langsung terasa nyaman. Saat itu jumlah pengunjung cukup ramai, tetapi sama sekali tidak mengurangi ambience-nya. Sepertinya pengelola mall tersebut paham bagaimana cara memberikan kenyaman maksimal kepada pengunjungnya. Hampir semua kebutuhan panca inderaku serasa terpenuhi. Konsep mall yang dibuat sedemikian rupa langsung membuat aku merasa punya keinginan untuk menelusuri setiap sudut dari mall tersebut. Setiap sisi menampilkan konsep yang berbeda dari bermacam-macam negara. Ada atsmosfir Jepang, Belanda, Amerika Serikat, India, China, dll. Kami akhirnya memilih foodcourt untuk tempat makan siang. Banyak pilihan disana. Aku memesan lontong cap go meh untuk mengganjal perut.
Setelah menyaksikan atraksi water fountain kami keluar dari mall tersebut.
Setelah pulang ke rumah, aku masih memikirkan mall tersebut. Tapi kali ini kekagumanku beralih kepada pemilik mall tersebut. Seorang teman pernah mengatakan bahwa pemiliknya adalah salah seorang pebisnis terkaya di Indonesia yang juga memiliki pabrik rokok yang merknya sudah branded, paling tidak di Indonesia. Aku tidak tahu banyak mengenai orang ini, karena aku sama sekali belum pernah membaca biografinya. Tapi itu tidak mengurangi kekagumanku. Aku kagum dan bertanya-tanya bagaimana cara dia, dan segelintir kecil orang lain yang seperti dia, menghasilkan uang sehingga bisa memiliki mall yang megah itu.
Mereka merupakan species yang sama dengan aku. Mereka hidup di bumi yang sama denganku . Mereka punya waktu 24 jam dalam sehari, persis sama dengan yang aku punya. Mereka makan apa yang aku makan (paling tidak mereka butuh karbohidrat, protein, dan mineral yang sama denganku walaupun perwujudannya dalam bentuk makanan bisa saja berbeda). Mereka adalah makhluk yang juga punya batasan seperti aku. Mereka perlu tidur dan makan juga. Tuhan menunjukkan Kemaha-adilanNya disini.
Tetapi kenapa mereka bisa menjadi berbeda denganku dan miliaran manusia lainnya dalam hal pencapaian?
Aku tahu mereka mempunyai disiplin tinggi dan bekerja sangat keras untuk mendapatkannya. Dan sejujurnya aku mengatakan they deserve to have it. Rasanya aku ingin menjadi waktu untuk dapat melihat dan merekam perjalanan hidup mereka dari detik ke detik. Aku ingin masuk ke alam pikiran mereka dan mengetahui apa yang mereka pikir dan rasakan. Aku ingin melihat point of view mereka terhadap setiap permasalahan, dan yang terlebih penting mengetahui cara mereka menyelesaikan permasalahan tersebut.
Kalau ada sesuatu yang bisa menggambarkan mereka dalam satu kata, itu pastilah: Sukses.
Aku ingat ucapan seorang motivator, success is a right. Aku setuju. Sukses adalah sebuah pilihan yang harus diperjuangkan. Success is not an escalator, it’s a ladder. Kita tidak bisa berdiam diri dan berharap dapat menjadi seperti mereka. Aku lebih memandang sukses sebagai sebuah perjalanan tiada akhir dibanding sebagai tujuan. Thomas Alfa Edison menjadi sukses karena punya prinsip: genius (success) is 1% idea and 99% effort. Orang yang sukses pastilah pekerja keras. Dan ini cukup menyadarkan aku supaya dapat bekerja lebih keras.
Aku mungkin tidak akan menjadi seperti mereka (not even close, may be). Tapi aku bisa menjadikan kisah sukses mereka sebagai penyemangat untuk menjadi lebih baik dalam meningkatkan mutu hidupku.
Menjadi sukses adalah impian setiap orang. Tetapi ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu menjadi bahagia.
Dan kabar baiknya adalah kebahagiaan lebih mudah dicapai dibanding kesuksesan.
Caranya?
Cintailah segala apa yang telah kita miliki. Jangan sampai setelah mereka terenggut dari kita, baru kita sadari betapa penting arti mereka buat kita. Ketika anda mencintai seseorang (atau sesuatu), ada keinginan untuk menjaga dan membahagiakan mereka.
Kita akan menerima apa yang kita beri. Dan ketika kita memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang kita cintai, maka dengan sendirinya kita akan menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Tidak penting berapa banyak harta yang anda miliki. Tidak penting posisi apa yang anda punyai dipekerjaan saat ini. Anda tidak perlu punya pasangan yang cantik atau tampan, atau anak yang sangat elok dan pintar sebagai syarat pencapai kebahagiaan. Selagi anda menginginkan dan mencintai mereka, kebahagiaan akan selalu bersama anda
Jumat, 08 Mei 2009
I do love sport now
Tapi sumpah, bukan karena slogan itu sekarang aku rajin berolahraga. Walau ada benarnya juga, siapa sih yang tidak mau tubuh dan jiwa yang sehat? Tapi itu bukan alasan awalku jadi rajin mengeluarkan cairan bernama keringat .
Semuanya berawal dari beberapa ‘komplain’ yang datang dari beberapa orang kerabat dan teman baikku. Dan seperti biasa, setiap komplain yang berasal dari lingkar satu tersebut, selalu masuk ke dalam perhatianku.
Berikut beberapa complain yang masih bisa kuingat:
Dari Desi (seorang teman yang baru aja balik dari Washington dan sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu. Komentarnya keluar pada saat kami ketemuan di Arion Plaza, Rawamangun, beberapa hari yang lalu) “Boy, apa kabaaaarrr…It’s been so long ya…Hei, I like your haircut, gitu dooonk….Tapi kok makin kurus ya Boy …Boy makan yang banyak ya…”
Atau komentar dari Juli pada waktu kami sama-sama baru selesai potong rambut. Kebetulan model potongan yang aku pilih adalah army look. Aku minta komentar kepada Juli mengenai rambut baruku. Dia melihat sebentar kea rah rambut baruku. Kemudian dia melengos kearah jam tangannya dan bilang: “Bagus…”, jawabnya singkat dan terkesan tidak ingin lagi membahas lebih lama mengenai rambutku tersebut. Beberapa hari kemudian barulah dia jujur dengan mengatakan "Kok gue ngeliat pentolan korek api dari perwujudan lu!" . Aku tau dia sedang menakar model rambutku dengan bentuk tubuhku. Itu aku ketahui karena beberapa saat kemudian dia memintaku untuk rajin berolahraga agar tubuhku bisa proposional.
Lain lagi komentar dari Osong, teman satu kamar waktu kos dulu. Osong adalah seorang teman yang punya bakat seni tinggi. Dia mahir main gitar, keyboard dan juga punya suara yang lumayan bagus. Beberapa lagu ciptaannya sudah pernah aku dengar. And I kinda like them. Sekitar dua bulan yang lalu aku bertemu lagi dengannya setelah lebih dari 10 tahun tidak bertemu. Ternyata dia tinggal di daerah Jati Asih dan hidup bahagia dengan 2 orang anak laki-laki dari 1 orang istri (yang ini perlu aku tegaskan mengingat reputasinya dulu…heheh sori Song). Sekarang Osong sudah sukses dan sudah punya studio musik sendiri, seperti cita-citanya dulu (way to go, Song!). Pada saat ketemu dia sama sekali tidak komentar mengenai tubuhku. Tapi begitu aku nge-add dia di FB, dia langsung mengomentari poto profilku. Tulisnya kira-kira begini: “Boy, poto profile lu pake baju gombrong gitu buat nutupin body lu yang blangsak ya?….hehehe”.
Damn! I don’t know what's the meaning of ‘blangsak’. Tapi itu pastilah tidak bagus. Walau maksudnya becanda, tapi aku tahu dia jujur menulis komentar itu. Dan aku tidak marah….suerrr Song, ueengggaak kokh…
Nah yang ini adalah komentar dari Vivin, ‘musuh bebuyutanku’ di FB. Vivin pernah meng-update statusnya di FB bahwa dia mau berenang. Kemudian aku tulis di wall-nya untuk minta ikutan. Tapi aku tidak diizinkan sama dia dengan alasan tidak mau menakut-nakuti anak kecil di kolam renang. Sopan gag sih…?
Cherryl, my biggest gift in this life, juga ikut berkomentar. Komentarnya diucapkan ketika aku baru saja selesai mandi dan sedang memakai baju seragam untuk berangkat kerja. “Mami, daddy ganteng ya…”, aku sangat senang dengan komentar tersebut seandainya tidak ada kalimat lanjutan “Tapi kurus nggak kaya Songoku.”
Ketika aku pulang ke Padang menghadiri kawinan adikku, aku ingat komentar pertama yang keluar dari nyokapku:”Kamu makan kan di Jakarta?”.
.....
I’m done.
I can’t take it no more. I must work out for my body. Dulu aku punya prinsip: I’m so ugly, I’m so thinny…so what…?. Toh yang penting sehat. Tapi penging juga lama-lama dengerin komentar-komentar seperti itu . Untung tidak ada temanku yang berprofesi wartawan. Karena aku bisa saja dijadikan ide untuk menulis artikel mengenai kekurangan gizi di Indonesia.
I gave up. Dan tanggal 26 April yang lalu aku sudah terdaftar sebagai member disalah satu Gym, di daerah Pondok Bambu. Tempatnya lumayan cozy dengan peralatan yang lumayan baru. Ada treadmill, instruktur yang siap membantu dan tempat buat sauna, fasilitas yang saat ini belum aku butuhkan. Ada kelas aerobiknya juga, dan aku pikir aku lebih senang melihat mereka latihan daripada ikut kelas tersebut :). Aku rajin latihan dengan motivasi building up my shape. Aku latihan minimal 3 kali seminggu. Dan saat ini masih dalam semangat yang luar biasa. Moga-moga semangat ini tetap berlangsung selamanya.
Ada beberapa efek yang dapat aku rasakan langsung setelah ikut nge-gym ini. Nafsu makanku jadi luar biasa. Aku selalu merasa lapar. Dan porsi makanku menjadi lebih banyak dari biasanya. Padahal sebelumnya aku jarang sekali merasakan lapar (walaupun perut belum diisi). Dan hal ini tentunya aku syukuri. I’m a plate eater now. Aku berharap dalam waktu dekat berat badanku bisa bertambah secara signifikan.
Efek selanjutnya adalah aku jadi sering ngaca. Ya, aku sering berkaca pada waktu mandi. Aku mematut-matut tubuhku di cermin kamar mandi dan mencoba berbagai pose binaraga. Walaupun aku tahu tidak (atau lebih tepat: belum) ada bagian dari ototku yang mengembang karena latihan tersebut. Tapi aku tidak bisa menahannya. Jadi ngaca menjadi salah satu ritualku kalau sedang mandi. Dan akibatnya, aku yang biasanya mandi tidak lebih dari 5 menit, sekarang paling cepat baru bisa selesai setelah 20 menit. Hebat…
Jumat, 24 April 2009
Tentang Seseorang 3
Jika seorang laki-laki mendapatkan dirinya terperangkap
Di dalam suatu pesona ajaib di luar batas kemampuan yang dia kehendaki,
apakah itu suatu kesalahan?
Dan jika seorang laki-laki ditakdirkan bagai karang,
apakah suatu dosa apabila sebongkah karang pun pada akhirnya luruh
oleh tetesan-tetesan air yang lembut?
Dengan sekejap hilang bijaksana di dalam ruangku yang terisi
Sekejap pula yang kuingini pada kenyataan yang lain
Kenyataan yang membalik alir nadiku
Gelombang yang melanda tegarku
Ruang tidak terasa berarti
Kata kehilangan makna
Lalu dimana aku?
Tak sekali kudapat malam karena ruang yang terisi telah berganti fajar
Aku tersiksa dalam anugerah yang DIA berikan
Tiada berani menyalahkan sesuatu yang tercipta benar
Lalu siapakah aku?
Aku adalah kecil mengharap besar
Aku adalah pengecut yang takut menyambut takdir
Dalam gundah kutampil senyum
Dibalik acuh tersembunyi rasa
Wahai, adakah pengecut yang lebih brengsek?
Di dalam banyak tanya tak terjawab, izinkan aku menunggu ketidakpastian
(karena kamu aku kasih di jalan yang Dia kehendaki)
Jakarta, Friday, August 29, 1997
02.05 am in the lonely room
for someone that shakes my life
“Heaven must be missing an angel”
Rabu, 08 April 2009
Tomorrow will be my first
Bagiku, aku hanya tidak menggunakan hakku untuk memilih. Siapa pun tidak bisa paksa aku melakukan sebaliknya. Tidak selama aku menganggap mereka tidak aspiratif terhadap kriteria tinggi yang aku tetapkan untuk seorang pengambil keputusan yang akan memutuskan nasib negara ini ke depan bersama eksekutif. Juga tidak kepada orang-orang yang sama sekali tidak punya kapasitas sebagai pembuat undang-undang, dimana pada saat rapat-rapat penting menyangkut nasib rakyat mereka terlihat tertidur dengan nyenyak di ruang sidang dan sebagian lagi baca Koran . Tidak kepada anggota dewan yang terhormat, yang tiba-tiba rasa hormat tersebut berubah menjadi sebaliknya begitu foto mesra atau pun video pornonya dengan perempuan yang bukan istri mereka merebak diinternet. And still a big no to: orang-orang yang seharusnya punya moral tinggi dan menjadi teladan tetapi malah ketangkap tangan oleh KPK karena korupsi. Berganti-gantian mereka muncul ditelevisi sebagai tersangka korupsi, dan entah mengapa, aku melihat mereka seperti tikus menjijikkan yang memang suka menggerogoti.
Orang bilang golput itu haram, tidak bertanggung jawab, pengecut dan pilihan yang tidak cerdas. Aku bilang, aku mensyukuri tidak memilih pada 2 kali pemilu yang lalu. Seandainya aku ikut memilih dan kebetulan pilihanku adalah orang-orang yang aku sebutkan di atas, bukankah aku punya andil terhadap dosa-dosa mereka karena ikut memilih mereka?
Aku tidak alergi terhadap pemilu. Aku hanya tidak ingin suaraku disalahgunakan. Bagiku, suaraku adalah sesuatu yang sangat berharga dan punya nilai yang sangat besar untuk kepentingan bangsa ini. Suaraku seharusnya menjadi pemungkin untuk digunakan oleh orang yang menginginkan Indonesia yang lebih baik. Dan itu tidak aku lihat pada caleg-caleg pada 2 pemilu yang lalu. Aku mensyukuri pilihanku untuk tidak memilih.
Sekarang aku punya kesempatan ketiga untuk melakukannya lagi. Dan waktunya adalah besok. Apakah aku akan ikut mencontreng? Kalau begitu siapa yang akan aku contreng. Apakah orang-orang yang merusak pohon-pohon dengan materi kampanye mereka yang kadang2 suka lebay (berlebihan)? Atau orang-orang yang berasal dari partai islam yang anggotanya malah menjadi tersangka korupsi? Atau orang-orang dari partai yang suka menjelek-jelekan pemerintahan sekarang, padahal mereka tidak lebih baik pada waktu mereka diberi kesempatan untuk memimpin bangsa ini? Atau orang-orang dari partai baru atau partai lainnya yang pada waktu acara-acara debat di TV tampil tidak lain tidak bukan hanya untuk memperlihatkan kebodohan mereka?
Jelas bukan mereka.
Itu artinya sekarang aku akan memilih. Aku akan menggunakan hakku untuk mencontreng. Aku sudah mengamati dan mempelajari beberapa program partai. Dan aku akan memilih partai yang program-programnya sangat realistis dan masuk akal. Aku akan memilih partai yang mempunyai jejak rekam yang bagus. Gak ada tempat buat partai-partai yang program-program dan janji-janji kampanye mereka terdengar sangat bombastis dan mengada-ada. Janji-janji yang sangat membodohi. Aku bukan orang bodoh. Aku adalah orang pintar, sehingga cukup pintar untuk tidak memilih mereka.
Ya, kali ini aku akan memilih.
Selasa, 24 Maret 2009
Apakah Materi Relevan dengan Kepuasan?
######
Juli adalah teman yang sangat mengenal aku. Dia selalu dapat diandalkan untuk memberi masukan-masukan penting menyangkut hal apa saja. Masukannya objektif dan terkadang memberi sudut pandang yang kadang-kadang tidak bisa aku lihat sebelumnya. Dilain waktu dia ada hanya untuk sekedar menyemangatiku ketika aku meragu untuk melangkah. Aku mengenalnya ketika sama-sama ambil kuliah S-1 di Universitas Borobudur, Jakarta. Pertama kali melihatnya adalah pada waktu penataran P-4. Waktu itu dia lebih sering tampil sebagai juru bicara di kelompoknya (Nusa Jaya B), dan selalu berdebat sengit denganku, karena aku merupakan juru bicara di kelompokku (Nusa Jaya A). Pada akhir masa penataran, kami sama-sama terpilih sebagai anggota terbaik bersama 8 orang lainnya.
Setelah perkuliahan dimulai, Juli ternyata sekelas denganku. Disana aku mulai lebih mengenalnya dan ternyata we have lot things in common. Dan hal tersebut membuat kami cepet akrab. Juli mempunyai puseran rambut di tengkuk bagian belakang, dan aku juga punya persis ditempat yang sama. Juli pernah punya panu di lengan kanannya, sementara aku juga punya, tapi di lengan kiri (pada waktu bersamaan). Suatu hari aku main ke rumahnya, dan dia show off orang tuanya baru saja membeli TV baru yang sangat besar. Waktu itu Aku kagum dengan TV besar tersebut. Tapi ketika aku libur dan pulang ke Padang, aku mendapati orang tuaku juga telah membeli TV baru yang merk, ukuran dan tipenya sama persis dengan yang orang tua Juli punya. Kami (dulu) menyukai selera fashion yang sama, celana jeans dengan kaos oblong yang ditutupi kemeja gunung (flannel) tanpa dikancingi (you can't imagine how proud we were with that style). Kami menyukai makanan yang sama, walaupun beda porsi (Juli makan lebih sedikit dari aku, tapi frekuensinya lebih sering). Dan rasanya tidak terlalu mengherankan kalau kami pernah menyukai perempuan yang sama. Tentu saja hal tersebut tidak membuat persahabatan kami terpecah (siapa pemenangnya, itu tidaklah penting).
He's always there in good and bad. He can be my friend when I become Mr. Right, but he's also my partner in crime as well. :)
######
Kali ini Juli mengucapkan itu ketika kami sama-sama berada dalam kendaraannya sehabis membeli DVD bajakan Al Gore "The Inconvenient Truth" yang fenomenal itu (though it's a bit late for him to watch the movie). Kami dalam perjalanan dari Kuningan menuju Tebet. Persis di jalan Slamet Rahardjo, sebelum tugu Pancoran, Juli kembali mengutarakan hal tersebut untuk yang kesekian kalinya
Aku sangat menghargai pendapatnya. Kami sedang membahas pekerjaan yang aku lakoni sekarang. Menurutnya aku pantas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang aku jalani sekarang. Juli meyakinkan aku bahwa aku bisa saja menerima gaji dan kompensasi yang lebih besar dari yang aku terima sekarang. And it's only one way to make it happen, quit and try to get another (better) job. He said that I had enough qualification and experiences to have a better one. And he believed that I had every thing to make it happen. "You are too smart for this thing, Boy, come ooon....," kata Juli.
Seperti biasa, bukan Juli namanya kalau tidak bisa memberi sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku. (apa aku bilang dia selalu memberi masukan yang objektif? well, mungkin tidak dalam hal menyemangatiku).
Topik obrolan seperti ini sering dilontarkan oleh orang-orang yang berada dalam lingkar 1 ku (Istri, saudara dan teman-teman dekatku). Tentu saja mereka menyampaikannya dengan cara yang kira-kira tidak menyinggung perasaanku. Hal yang jadi pertimbangan mereka hampir sama, yaitu jumlah kompensasi yang aku terima. Aku selalu jujur menjawab pertanyaan mereka mengenai jumlah gaji dan semua bonus yang aku terima. Aku merasa tidak ada yang perlu disembunyikan mengenai penghasilanku, karena memang begitu adanya.
Apa benar pekerjaan ini tidak cocok buatku?
Kepuasan apa yang aku dapatkan dari pekerjaanku yang sekarang?
Apa aku telah cukup memperoleh banyak hal dari pekerjaanku?
Hmm, mari kita lihat....
Aku teringat akan petuah Bapakku (yang aku hormati melebihi langit dan bumi) beberapa tahun silam. Setiap pekerjaan yang kamu lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan membawa kamu kepada keberhasilan.
Aku mulai dari situ.
Apa semua pencapaian dan kepuasan dapat dinilai dengan uang? Coba tanyakan hal tersebut kepada orang-orang yang terlebih dahulu telah membuktikan dirinya menjadi orang-orang yang pantas untuk diingat sepanjang masa. Bunda Theresa, Bill Gates, Nelson Mandela, Mahatma Ghandi, Thomas Alfa Edison, Moh. Hatta, Albert Einstein, Van Gogh, Socrates, dll. Mereka adalah orang-orang yang melebihi masanya. Mereka adalah orang-orang yang sangat total dan mempunyai dedikasi penuh terhadap apa yang sedang mereka kerjakan, walaupun harus dihukum mati atau menjadi gila karenanya. Mereka tidak meminta untuk menjadi kaya, tetapi kekayaanlah yang dengan senang hati menghampiri mereka. Kalaupun mereka menjadi kaya (baik kaya secara materil maupun sprituil) karena apa yang mereka lakukan, hal itu hanyalah bonus dari yang mereka kerjakan. Mereka dihormati bukanlah dari apa yang telah mereka punyai, tetapi dari apa yang telah mereka berikan.
So, apakah materi masih relevan dengan kepuasan?
Sebelum aku mendapatkan pekerjaan ini, aku adalah seorang yang introvert dan sangat soliter. Aku seolah-olah asyik dengan duniaku. Aku jarang mengenal hal-hal yang baru dan orang-orang yang baru. Temanku selalu itu-itu saja. Kalaupun ada, itu pastilah teman untuk sekedar 'say hai' saja. Aku sangat konvensional. Aku tidak mau memikul sebuah tanggung jawab. Aku menjadi pemilih, walaupun tanpa maksud. Aku jarang mengikuti perubahan. Aku bukan trend setter tetapi juga bukan follower. Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan merasa tidak eksis. Dan aku sadar, itu adalah kelemahan terbesarku. Tapi waktu itu aku tidak kuasa untuk merubah perilaku tersebut. Ada keinginan untuk berubah, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana dan mulai darimana. Seperti Buya Hamka bilang, ada dua hal yang sangat berat untuk dilakukan manusia, merubah kebiasaan dan membiasakan sesuatu. Aku sadar aku harus berubah, kalau tidak ingin tergilas zaman. Segala sesuatu pasti berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan tidak akan pernah berubah menjadi tidak berubah. Tapi rubah tidak akan berubah menjadi domba...ups, ngaco...kembali ke laptop!
Tapi sejak aku mendapatkan pekerjaan ini, sesuai dengan jabatan dan diskripsi pekerjaan yang aku terima, aku dituntut untuk lebih mengerti banyak hal. Aku dituntut dan dituntun untuk berubah. Aku harus memahami banyak karakter dan syarat utama untuk melakukannya adalah memahami karakter diri sendiri terlebih dahulu. Aku harus melatih dan menampilkan sisi leadership yang aku punya. Dulu aku tidak pernah membayangkan akan sering berbicara di depan orang banyak, sekaligus panutan untuk mereka dan menjadi sabar terhadap suatu kritik atau komplain. Aku diwajibkan untuk memikul tanggung jawab terhadap target-target yang telah ditetapkan. Aku mulai terbiasa dengan tekanan-tekanan, yang sesungguhnya kalau dilihat dari perspektif lain akan menjadi hal yang indah mewarnai perjalanan hidupku. Aku merasa terpuaskan ketika tekanan-tekanan tersebut satu per satu dapat teratasi. Aku bahagia.
Dan, kebahagiaan tersebut belum tentu aku dapatkan seandainya aku tidak bekerja disini atau memilih keluar dari pekerjaan ini. Aku memperoleh banyak hal dari sini. Tuhan menunjukkan rasa sayangNya padaku dengan cara ini. Aku mensyukurinya. Terima kasih Tuhan.
So, apakah materi masih relevan dengan kepuasan?